DSC01495DSC01550DSC01764

Advertisements

Labanya tinggi, tapi kok kas nya sedikit?

Itu mungkin adalah pertanyaan yang sering didengar oleh para akuntan, dari pemilik perusahaan, atau direksi, yang kurang mengerti akuntansi atau tidak memiliki sama sekali background finance.

Kenapa laba bisa tinggi sedangkan kas sedikit?

Baik laporan laba rugi maupun Arus kas, masing-masing dibuat dalam sebuah periode tertentu, dalam sebuah siklus ekonomi perusahaan, bisa bulanan, 3 bulanan dan tahunan. Dalam satu siklus, perusahaan akan melakukan transaksi Operasional, Investasi, ataupun pendanaan. Siklus Operasional merupakan siklus inti perusahaan seperti Penjualan, pembelian persediaan, pengeluaran untuk beban operasional dll. Siklus transaksi investasi adalah pengeluaran atau penerimaan perusahaan untuk pembelian misalnya Aset tetap, saham dll. Sedangkan siklus pendanaan misalnya pinjaman dari pihak ketiga untuk perusahaan.

Laporan laba rugi, terdapat dalam siklus operasional perusahaan. Namun tidak berarti juga bahwa akhir dari arus kas operasi adalah laba perusahaan.

Akuntansi memakai basis yang disebut akrual, dimana transaksi dicatat ketika peristiwa itu terjadi, dan bukan saat diterimanya kas. Misalnya, Penjualan, transaksi ini bisa dilakukan secara kas ataupun secara kredit (pembeli melakukan utang). Dalam kas basis, penjualan akan diakui pada saat kas diterima. Berbeda dengan Akrual, dimana penjualan tetap diakui sebesar harga jual dan mengakui piutang disisi lain. Penjualan akan masuk ke laporan laba rugi, ke dalam akun pendapatan. Jadi bisa dilihat, jika penjualan tinggi tapi kas rendah, kemungkinan besar, sebagian besar transaksi yang dilakukan perusahaan adalah transaksi kredit. Atau, perusahaan melakukan investasi lain.

 

Fintech, singkatan dari Financial Technology, adalah sebuah hal yang sebenarnya sudah lama kita gunakan, hanya saja, istilah fintech baru mulai muncul beberapa bulan belakangan. Transaksi keuangan, adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu, dimulai pada saat dimana sebuah era atau zaman mulai diperkenalkan dengan alat tukar menukar yang diberi nama Money atau uang, itu sebabnya kenapa disebut sebagai transaksi KeUangan. Sedangkan kegiatan ekonomi manusia, sudah dilakukan lebih lama lagi dibandingkan dengan transaksi keuangan, disebutnya Transaksi Ekonomi.

Saat ini, transaksi ekonomi di dunia sudah hampir seluruhnya menggunakan alat tukar Uang, sehingga, transaksi ekonomi bisa hampir dipastikan adalah transaksi keuangan. Ada 4 kegiatan yang saat ini berputar dalam roda perekonomian yaitu: 1. Spending; 2. Saving; 3. Borrowings; 4. Investing. Tradisional sistem dalam keempat kegiatan ekonomi tersebut, dulu dilakukan dengan people meet people, misalnya Spending , kegiatan pengeluaran uang yang dilakukan manusia, dulu dilakukan dengan saling bertemu, datang ke toko, dan transaksi dilakukan menggunakan real money atau Cash only.

Berbeda dengan apa yang saat ini terjadi. Era ekonomi digital mengubah bagaimana sebuah transaksi ekonomi dilakukan. Sebelum kita mengenal smartphone, dunia sudah diperkenalkan dengan technology Mesin ATM, Debit Card, Credit Card dll. Kemudian, era memasuki zaman internet, yang untuk mengakses dibutuhkan sebuah komputer atau laptop, berlanjut kemudian muncul smartphone, yang membuat orang dengan leluasa, mengakses internet dimanapun juga. Dari sebuah smartphone dalam genggaman, setiap orang saat ini bisa melakukan transaksi ekonomi. Online Shop, membuat setiap orang yang ingin berbelanja bisa melakukan dimana saja, tanpa harus mendatangi toko. Pembayaran dilakukan bukan lagi melalui mesin ATM, tapi melalui aplikasi perbankan mobile banking. Jadi orang duduk di sofa, pegang smartphone, tidak perlu kemana – mana, barang yang diinginkan bisa didapatkan.

Generasi millenial dan yang lahir sesudah itu mungkin adalah yang paling familiar dengan technology ini. Generasi sebelumnya yang mungkin masih terbiasa menggunakan transaksi tradisional, akan lebih was-was menggunakan technology ini. Keamanan memang masih menjadi concern regulator dalam menghadapi perkembangan financial technology. Banyaknya sistem yang dijebol, data yang tidak terekripsi dengan baik, atau regulasi yang tidak sesuai dengan sistem perbankan saat ini, masih sering dibicarakan dalam forum forum dan seminar yang sering diadakan. Bukan hanya masalah financial yang saya merasa regulator kurang mengimbangi kecepatan perkembangan, transportasi dengan basis online seperti gojek atau grab pun, sampai saat ini masih sering dibenturkan dengan kebijakan yang tidak sesuai.

Financial technology memang didasarkan pada kepercayaan. Contohnya dalam hal investasi, saya menaruh investasi pada reksadana melalui aplikasi bareksa.com. Dengan basis kepercayaan dan label bahwa bareksa terdaftar pada OJK, saya berani menaruh investasi disana. Semakin lama, alat tukar uang bukan lagi dalam bentuk kertas ataupun koin, namun hanya dalam bentuk angka yang terpampang dalam sebuah layar 13 inci atau 5 inci smartphone kita. Tanpa kita sadari, transaksi cash semakin lama semakin menghilang, orang mulai menggunakan debit card, credit card, transfer online melalui aplikasi dan lain-lain. Begitu kita taruh uang kita di bank, yang kita terima adalah angka, bukan lagi fisik uang.

UANG ELEKTRONIK DAN MATA UANG DIGITAL

Uang elektronik berbeda dengan cryptocurrency yang beberapa waktu yang lalu dilarang oleh bank indonesia. Gopay di aplikasi gojek, Bukadompet pada Bukalapak.com atau tokocash pada aplikasi tokopedia.com adalah contoh-contoh transaksi uang elektronik termasuk e-money, flazz dll.

Uang elektronik (atau uang digital) adalah uang yang digunakan dalam transaksi Internet dengan cara elektronik. Biasanya, transaksi ini melibatkan penggunaan jaringan komputer (seperti internet dan sistem penyimpanan harga digital). Electronic Funds Transfer (EFT) adalah sebuah contoh uang elektronik (wikipedia).

Sebagai instrumen pembayaran, uang elektronik memiliki kriteria sebagai berikut:

  1. Diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit;
  2. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip;
  3. Digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut; dan
  4. Nilai uang elektronik yang disetor oleh pemegang dan dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan.

Walaupun transaksi uang elektronik melibatkan transaksi online, namun mata uang yang digunakan tetaplah rupiah, berbeda dengan MATA UANG DIGITAL yang muncul belakangan seperti Bitcoin, Dodge, Ethereum, Litecoin dan masih banyak lagi. Mereka adalah mata uang yang ciptakan dengan proses pemecahan matematika yang rumit. Tidak ada bentuk nyata dari mata uang ini. Jika mata uang yang kita gunakan sekarang diterbitkan oleh bank sentral, dimana peredaran dan keamanannya diawasi oleh regulator berwenang, mata uang digital tercipta dengan proses mining dalam jaringan internet. Jumlah uang beredar dan tingkat volatilitas mata uang ini tidak dapat diprediksi. Hal ini dapat dilihat dari grafik dibawah ini:

Dapat dilihat dari grafik tersebut, bahwa nilai bitcoin tidak dapat diprediksi, pada tahun 2017 akhir, nilai 1 bitcoin lebih dari Rp 200 juta rupiah!. Dan dalam grafik 30 hari terakhir, nilai bitcoin naik turun pada angka Rp 120 juta sampai Rp 160 juta. Tidak ada yang tau pasti, kenapa nilai mata uang digital bisa naik turun dengan cepat. Itulah sebabnya, BI sebagai regulator melarang mata uang ini digunakan sebagai transaksi.

PERKEMBANGAN FINANCIAL TECHNOLOGY DI INDONESIA

Bisnis Startup Fintech semakin berkembang di Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari semakin banyaknya pengembang aplikasi berbasis financial technology yang memudahkan masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan.

Dilansir dari Kontan.co.id, Senin (28/8/17), Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara, mengatakan berdasarkan data Statistika, total nilai transaksi Financial Technology(Fintech) di Indonesia tahun lalu diperkirakan mencapai US$15,02 miliar (Rp202,77 triliun)- dikutip dari finansialku.com.

Pengguna internet di Indonesia pada tahun 2018, dilansir dari Kompas.com adalah sebesar 143 juta. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia adalah 262 juta jiwa. Berarti lebih dari 50% penduduk indonesia adalah pengguna internet, 45,9% dari pengguna internet berusia 19 – 34 tahun, generasi millenial. Ini merupakan pasar besar penggunaan finansial technology. Pasar mulai bergerak masuk ke dalam jaringan online, bukan lagi toko fisik.

Sekarang adalah, bagaimana dengan perkembangan technolgy ini, kita memanfaatkannya dengan baik.

MY BLOG

Where i am

1-202-555-1212
Lunch: 11am - 2pm
Dinner: M-Th 5pm - 11pm, Fri-Sat:5pm - 1am
Advertisements